Menu Close

Rantai Emas, PDF, EPUB

Original price was: Rp70.000.Current price is: Rp30.000.

RANTAI EMAS

atau, Uraian tentang Teologi

William Perkins (1558–1602)

Bagaimana Allah menyelamatkan orang berdosa? Mengapa sebagian orang diselamatkan dan sebagian tidak? Bagaimana seorang Kristen dapat yakin akan keselamatannya?

Rantai Emas menjawab pertanyaan-pertanyaan ini dengan menelusuri urutan sebab-sebab keselamatan dan kebinasaan menurut firman Allah. Urutan itu bersumber dari ketetapan Allah yang kekal. Lalu berlanjut ke penciptaan dan kejatuhan manusia, karya Kristus sebagai Pengantara, panggilan yang efektif, pembenaran, pengudusan, sampai pemuliaan. Setiap mata rantai berkaitan dengan mata rantai berikutnya, sebagaimana diajarkan Roma 8:30.

William Perkins adalah teolog dan pengkhotbah di Universitas Cambridge yang sering disebut “Bapak Puritanisme Inggris”. Buku ini terbit pertama kali pada tahun 1592, dan sejak itu menjadi salah satu karya teologi Reformed yang paling berpengaruh pada zamannya. Perkins menyusun ajarannya secara ringkas dan sistematis, dengan dasar ayat-ayat Alkitab pada hampir setiap pernyataannya.

 

Isi buku ini meliputi:

Allah, Tritunggal, dan ketetapan-ketetapan-Nya

Penciptaan, kejatuhan, dan dosa

Pribadi dan karya Kristus

Hukum Taurat dan uraian Sepuluh Hukum

Perjanjian anugerah, sakramen Baptisan, dan Perjamuan Kudus

Panggilan yang efektif, pembenaran, pengudusan, dan pemuliaan

Peperangan rohani dan penghiburan bagi hati nurani yang tertekan

Tanggapan atas ajaran keselamatan Gereja Roma

Penerapan ajaran predestinasi bagi kepastian iman orang percaya

Buku ini cocok bagi hamba Tuhan, mahasiswa teologi, guru Sekolah Minggu, dan setiap orang Kristen yang ingin memahami ajaran keselamatan secara utuh dan alkitabiah. Perkins menulis bukan hanya untuk menjelaskan doktrin, tetapi supaya pembacanya bertumbuh dalam kepastian iman dan hidup yang kudus bagi kemuliaan Allah.

Category:

Contoh

Bab 1. Tentang Kumpulan Kitab Suci dan Teologi

Kumpulan Kitab Suci adalah ajaran yang cukup untuk hidup dengan baik. Di dalamnya tercakup banyak ilmu suci; satu di antaranya adalah ilmu yang utama,[1] sedangkan yang lain adalah pelayan atau pendampingnya.

Ilmu yang utama itu adalah Teologi. Teologi adalah ilmu tentang hidup berbahagia selama-lamanya. Hidup yang berbahagia terletak dalam pengenalan akan Allah. Yoh 17:3, “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan Yesus Kristus yang telah Engkau utus.” Yes 53:11, “Oleh pengenalan akan dia, hamba-Ku yang benar itu (yaitu Kristus) akan membenarkan banyak orang.” Karena itu, hidup yang berbahagia juga terletak dalam pengenalan akan diri kita sendiri, sebab kita mengenal Allah dengan memandang ke dalam diri kita sendiri.

Teologi terdiri atas dua bagian: yang pertama tentang Allah, yang kedua tentang karya-karya-Nya.

Bab 2. Tentang Allah dan Natur Allah

Bahwa Allah ada, hal itu nyata:

  1. dari jalannya alam;
  2. dari natur jiwa manusia;
  3. dari adanya pembedaan antara hal yang patut dan yang tidak patut;
  4. dari kengerian hati nurani;
  5. dari tata tertib (atau pemerintahan) masyarakat sipil;
  6. dari urutan semua sebab yang selalu merujuk kembali kepada suatu permulaan yang lebih dahulu;[2]
  7. dari diarahkannya segala sesuatu kepada tujuannya masing-masing;
  8. dari kesepakatan semua orang yang berakal sehat.

Allah adalah Yehova Elohim. Kel 6:2–3, “Elohim berfirman kepada Musa dan berkata kepadanya: Akulah Yehova. Aku telah menampakkan diri kepada Abraham, Ishak, dan Yakub sebagai Allah Yang Mahakuasa, tetapi dengan nama-Ku Yehova Aku belum menyatakan diri kepada mereka.” Kel 3:13–15, “Apabila mereka bertanya kepadaku: Siapakah nama-Nya? Apakah yang harus kujawab kepada mereka? Firman Allah kepada Musa: AKU ADALAH AKU. Lagi firman-Nya: Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKU telah mengutus aku kepadamu. Selanjutnya berfirmanlah Allah kepada Musa: Beginilah kaukatakan kepada orang Israel: Yehova Elohim … telah mengutus aku kepadamu.” Dalam kata-kata ini, sebutan pertama bagi Allah menyatakan Natur-Nya, sedangkan sebutan kedua menyatakan Pribadi-pribadi-Nya.

Natur Allah adalah esensi-Nya yang paling hidup dan paling sempurna.

Kesempurnaan natur Allah adalah keberadaan-Nya yang mutlak, yang membuat Dia sepenuhnya lengkap di dalam diri-Nya sendiri. Kel 3:14, “AKU ADALAH AKU.” Kis 17:24–25, “Allah yang telah menjadikan bumi dan segala isinya, Ia, yang adalah Tuhan atas langit dan bumi, tidak diam dalam kuil-kuil buatan tangan manusia, dan juga tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah-olah Ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang memberikan hidup dan napas dan segala sesuatu kepada semua orang.”

Kesempurnaan natur-Nya itu adalah kesederhanaan-Nya atau ketakterbatasan-Nya.

Kesederhanaan natur Allah adalah sifat yang membuat Dia bebas dari segala relasi logis: di dalam Dia tidak ada subjek maupun sifat tambahan. Yoh 5:26, “Sama seperti Bapa mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri, demikian juga diberikan-Nya Anak mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri” — bandingkan dengan Yoh 14:6, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.” 1Yoh 1:7, “Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang” — bandingkan dengan ayat 5, “Allah adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan.” Dari sini jelas bahwa bagi Allah, mempunyai hidup dan adalah Hidup, berada di dalam terang dan adalah Terang, semuanya satu dan sama. Allah juga tidak dapat digolongkan ke dalam yang umum atau yang khusus, ke dalam keseluruhan atau bagian-bagian, ke dalam materi atau apa yang dibentuk dari materi. Sebab jika demikian, di dalam Dia akan ada hal-hal yang berbeda-beda, dan yang satu lebih sempurna daripada yang lain. Karena itu, apa pun yang ada di dalam Allah adalah esensi-Nya, dan segala sesuatu yang ada pada-Nya, Ia miliki karena esensi-Nya. Ucapan Agustinus dalam bukunya Tentang Tritunggal, buku ke-6, pasal 4, tepat untuk membuktikan hal ini: “Di dalam Allah,” katanya, “berada dan adil, atau berada dan berkuasa, semuanya satu. Tetapi di dalam pikiran manusia tidaklah demikian — berada tidak sama dengan berkuasa atau adil; sebab pikiran dapat saja tidak memiliki kebajikan-kebajikan ini, namun tetap merupakan pikiran.”

Dari sini jelas bahwa natur Allah itu tidak berubah dan bersifat roh.

Ketidakberubahan natur Allah adalah sifat yang membuat Dia bebas dari segala bentuk penyusunan, pembagian, dan perubahan. Yak 1:17, “Pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran.” Mal 3:6, “Bahwasanya Aku, TUHAN, tidak berubah.” Apabila dikatakan bahwa Allah menyesal, dan sebagainya (Kej 6:6), artinya ialah bahwa Allah mengubah tindakan-Nya, sebagaimana dilakukan manusia yang menyesal. Jadi, penyesalan itu tidak menunjukkan adanya perubahan di dalam Allah, melainkan perubahan dalam tindakan-tindakan-Nya dan dalam hal-hal yang Ia jadikan dan Ia ubah.

Natur Allah bersifat roh, artinya tidak bertubuh dan karena itu tidak kelihatan. Yoh 4:24, “Allah itu Roh.” 2Kor 3:17, “Tuhan adalah Roh.” 1Tim 1:17, “Hormat dan kemuliaan sampai selama-lamanya bagi Raja segala zaman, Allah yang kekal, yang tak nampak, yang esa, yang bijaksana!” Kol 1:15, “Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan.”

Ketakterbatasan Allah ada dua: kekekalan-Nya dan kebesaran-Nya yang tak terhingga.

Kekekalan Allah adalah sifat yang membuat Dia tidak berawal dan tidak berakhir. Mzm 90:2, “Sebelum gunung-gunung dilahirkan, dan bumi dan dunia diperanakkan, bahkan dari selama-lamanya sampai selama-lamanya Engkaulah Allah.” Why 1:8, “Aku adalah Alfa dan Omega, yaitu yang awal dan yang akhir, firman Tuhan Allah, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang.”

Kebesaran Allah yang tak terhingga adalah sifat yang membuat natur-Nya yang tak terselami itu hadir di mana-mana, baik di dalam maupun di luar dunia. Mzm 145:3, “Besarlah TUHAN dan sangat terpuji, dan kebesaran-Nya tidak terduga.” 1Raj 8:27, “Tetapi benarkah Allah hendak diam di atas bumi? Sesungguhnya langit, bahkan langit yang mengatasi segala langit pun tidak dapat memuat Engkau, terlebih lagi rumah yang kudirikan ini.” Yer 23:24, “Tidakkah Aku memenuhi langit dan bumi? demikianlah firman TUHAN.” Dari sini jelaslah:

Pertama, bahwa Allah hanya satu, dan satu itu tidak terbagi, bukan banyak. Ef 4:5–6, “Satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua.” Ul 4:35, “Engkau diberi melihatnya untuk mengetahui bahwa TUHANlah Allah, tidak ada yang lain kecuali Dia.” Lagi pula, hanya mungkin ada satu hal yang naturnya tak terbatas.

Kedua, bahwa Allah adalah Yang Mengenal hati. Sebab tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi natur yang ada di dalam segala sesuatu dan di luar segala sesuatu, yang tidak terkurung dalam apa pun dan tidak tertutup dari apa pun. Sebab, 1Taw 28:9, “TUHAN menyelidiki segala hati dan mengerti segala niat dan cita-cita.” Mzm 139:2, “Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh.”

[1] Lihat Bagan Teologi di bagian awal buku ini.

[2] Segala sesuatu disebabkan oleh sesuatu yang mendahuluinya; jika rangkaian sebab itu ditelusuri mundur, semuanya bermuara pada satu sebab pertama dari segala sesuatu. Allah lebih dari sekadar sebab pertama, tetapi sekurang-kurangnya Ia adalah sebab pertama. Karena itulah Paulus berkata, “Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih” (Rm 1:20). Tanpa penyataan khusus Allah di dalam firman-Nya, kita tidak dapat mengenal natur Allah yang sejati maupun rencana keselamatan-Nya; tetapi kita semua seharusnya tahu bahwa Allah ada, dan kita dapat belajar banyak tentang Pencipta kita dari ciptaan-Nya.

Reviews

There are no reviews yet.

Be the first to review “Rantai Emas, PDF, EPUB”

Your email address will not be published. Required fields are marked *